Al Wala Wal Bara

23 Sep 2011

Al Wala Wal Bara

Tujuan

  • Peserta mampu mempraktikkan Al Wala wal Bara
  • Peserta memahami kaidah dalam berhubungan dengan non muslim
  • Peserta mampu membedakan antara Ihsan dengan Al Wala

Pertanyaan awal

Dalam kehidupan sehari-hari kita berinteraksi dengan beragam orang dari berbagai latar belakang. Lalu bagaimana adab interaksi kita saat berhubungan dengan non muslim?

Pembahasan

Al Wala memiliki akar kata yang sama dengan Al Walyu (hampir atau dekat), Al Walaayatu (kekuasaan atau pembelaan), dan juga Al Muwaalaatu (kasih sayang, setia, dan penghormatan).

Al Bara adalah lawan dari Al Wala yang berarti berlepas diri atau menjauh.

Al Wala wal Bara adalah mencintai Allah, mencintai dan membenci karena Allah, mencintai segala yang Allah cintai, serta membenci segala yang Allah benci.

Konsekuensi dari Al Wala ialah menjadikan Allah Azza wa Jalla, Rasulullah sallallahu alaihi wa-sallam, dan orang-orang beriman, sebagai pihak yang dijadikan rujukan, dibela, dan dihormati dengan penuh setia/loyalitas dan kasih sayang secara lahir dan batin.

Konsekuensi dari Al Bara ialah berlepas diri, menjauhi, dan tidak menjadikan teman dekat setiap pihak yang Allah benci, yang menolak Rasul-Nya, dan yang memusuhi orang-orang beriman.

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (QS. Al Mujaadilah: 22)

Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia. (Muttafaqun Alaih)

Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. (HR. Ahmad dalam Musnadnya dari al-Bara bin Azib)

Orang-orang yang mendapatkan Wala dan Bara terbagi menjadi tiga:

PERTAMA: Orang yang mendapat wala secara mutlak, yaitu orang-orang mukmin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya.

Beberapa contoh penerapan al wala terhadap kaum mukminin antara lain:

a.) Bergabung ke dalam jamaah kaum Muslimin dan tidak berpisah dengan mereka.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. (QS. Ali Imran: 103)

Termasuk dalam hal ini ialah memprioritaskan bergaul dengan kaum muslimin, mencintai ulama-ulama kaum Muslimin yang shalih, menjadikan mereka rujukan, dan berusaha untuk dekat bersama mereka.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al Kahfi: 28)

Konsekuensi dalam hal ini ialah hijrah dari negeri kafir ke negeri muslim, atau dari lingkungan syirik ke lingkungan islami, dari lingkungan maksiat ke lingkungan orang-orang yang taat, kecuali bagi orang yang lemah atau tidak dapat berhijrah karena kondisi geografis dan politik yang tidak memungkinkan. (Lihat QS. An Nisaa’: 97 99)

b.) Membangun pergaulan yang baik dalam masyarakat muslim, mencintai saudara muslim sebagaimana mencintai diri sendiri, bersikap lembut terhadap mereka, menunaikan hak mereka, serta tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al Maaidah: 2)

Perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta, kekompakan, dan kasih sayang bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuhnya juga ikut menjaga dan berjaga. (HR. Bukhari)

Rasulullah SAW bersabada: Hak seorang Muslim atas seorang Muslim yang lain ada enam. Ada yang bertanya, Apa saja ya Rasululllah? Beliau menjawab: Bila kamu berjumpa dengannya ucapkan salam, jika ia mengundangmu penuhilah, jika ia meminta nasihat kepadamu nasihatilah, jika ia bersin dan memuji Allah hendaknya kamu mendoakannya, jika ia sakit jenguklah, dan jika ia mati antarkanlah jenazahnya. (HR. Muslim)

Termasuk dalam hal ini ialah tidak membuat kerusakan terhadap kaum muslimin, mencari aib, ber-ghibah dan menyebarkan namimah, serta tidak menyombongkan diri dan mendendam terhadap mereka.

Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang curang terhadap kami, maka dia bukan dari golongan kami. (HR. Muslim)

Lihat juga QS. Al Hujuraat: 11 12.

Hal ini berlaku terhadap semua kaum muslimin, termasuk kepada muslim yang miskin dan rendah kedudukan sosialnya.

c.) Berdakwah dan menyuruh kaum muslimin kepada yang makruf dan mencegah mereka dari kemungkaran, serta menasihati mereka.

Rasulullah SAW bersabda: Agama adalah nasihat. Sahabat bertanya, Untuk siapakah, ya Rasulullah? Beliau menjawab: Untuk Allah, Rasul, kitab-kitab, pemimpin kaum Muslimin, dan untuk mereka semua. (HR. Muslim)

Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan, maka apabila tidak mampu hendaklah (ia lakukan) dengan lisannya, dan apabila tidak mampu hendaklah (ia lakukan) dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman. (HR. Muslim)

Tolonglah saudara kamu baik yang melakukan kezhaliman atau yang dizhalimi. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, kita bisa menolong kalau dia dizhalimi, tapi bagaimana mungkin kami memberikan pertolongan kalau dia berlaku zhalim?” Rasulullah SAW bersabda: “Cegahlah dia untuk tidak melakukan kezhaliman, dan sesungguhaya hal itu merupakan pertolongan baginya.” (HR. Bukhari)

d.) Menyikapi perbedaan di kalangan umat Islam dengan timbangan Al Quran dan Sunnah.

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya). (QS. An Nisaa’: 59)

Kaum muslimin tidak boleh membela suatu pendapat berdasarkan sikap ashabiyyah, karena tolok ukur al wala bukanlah suku dan golongan, melainkan ilmu dan takwa.

Ashabiyah diambil dari kata ashabah (kerabat dari pihak bapak). Menurut Ibn Mandzur (dalam Lisan al-Arab), ashabiyyah adalah ajakan seseorang untuk membela keluarga, tidak peduli keluarganya zalim atau tidak, benar atau salah. Ashabiyyah adalah sikap pembelaan membabi buta terhadap kaumnya (suku atau golongan) padahal mereka berada di posisi yang salah.

Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ashabiyyah (kelompok-isme, bangsa-isme, suku-isme), orang yang berperang karena ashabiyyah, dan orang yang mati karena ashabiyyah. (HR. Abu Dawud)

Dan siapa saja yang berperang di bawah panji kejahilan, ia marah karena ashabiyyah, atau ikut menolong (membantu) demi ashabiyyah, kemudian ia terbunuh, maka matinya adalah mati jahiliyah. (HR. Muslim)

Karena itulah umat Islam akan senantiasa bersatu apabila berpegang dengan prinsip Al Wala wal Bara.

Dan sesungguhnya inilah umatmu, umat yang satu, dan Akulah Tuhan kamu, maka hendaklah kamu bertakwa kepadaKu. (QS. Al Mu’minuun: 52)

e.) Membantu, menolong, dan melindungi kaum muslimin dari serangan dan gangguan musuh-musuhnya (yaitu orang-orang kafir, musyrik, dan munafik) dengan lisan, harta, dan jiwa di manapun ia berada/berasal dan dalam semua kebutuhan, baik dunia maupun agama. (Lihat QS. Al Anfaal: 72)

Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain bagaikan bangunan yang sebagian menyangga sebagian yang lain. (HR. Bukhari dan Muslim)

KEDUA: Orang yang mendapat wala dari satu sisi dan mendapat bara dari sisi yang lainnya, yaitu muslim yang bermaksiat, menyepelekan sebagian kewajiban dan melakukan sebagian yang diharamkan.

Hal ini juga berlaku terhadap para muslim yang menjadi pemimpin.

Barangsiapa yang mentaati seseorang pemimpin (Islam), kemudian dia mendapati pemimpinnya bermaksiat kepada Allah, maka hendaklah dia membenci terhadap kemaksiatannya, tetapi tidak dihalalkan melepaskan tangan dari mentaatinya. (HR. Muslim)

Tidak ada ketaatan (terhadap makhluk) dalam bermaksiat kepada Khalik (Allah). (HR. Ahmad)

KETIGA: Orang yang mendapat bara secara mutlak, yaitu orang-orang musyrik, munafik, kafir, dan muslim yang murtad, melakukan kesyirikan, meninggalkan shalat wajib dan pembatal keislaman lainnya.

Beberapa contoh penerapan al bara antara lain:

a.) Tidak menjadikan orang-orang kafir, musyrik, dan munafik sebagai sahabat terdekat. Kita boleh berteman dengan siapa saja, termasuk dengan non muslim, namun kita tetap harus mengambil sahabat terdekat dari kalangan orang-orang Islam. (Lihat QS. Al Mujaadilah: 22)

Wajib bagi setiap muslim memiliki rasa benci terhadap kekafiran, kemusyrikan, dan kemunafikan. Namun kita tetap diperbolehkan bermuamalah dan bergaul dengan pelakunya, kecuali jika mereka menunjukkan permusuhan yang nyata terhadap Islam.

b.) Tidak meniru ciri khas serta kebiasaan orang-orang kafir dan musyrik.

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Larangan menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini dalam hal yang berkaitan dengan keduniaan maupun agama.

Termasuk pula dilarang meniru dan mengambil rujukan hukum dari mereka sementara mereka meninggalkan hukum Allah dan Rasul-Nya.

Sementara dalam hal ilmu pengetahuan yang berasal dari mereka, maka umat Islam boleh mengambil selama ilmu pengetahuan tersebut tidak menselisihi Al Quran dan Sunnah.

c.) Tidak bekerjasama dalam hal ibadah dengan orang-orang kafir.

Hubungan umat Islam dengan orang kafir adalah dalam hal muamalah, namun tidak dalam hal ibadah. Ibadah yang dilakukan oleh orang kafir adalah suatu pelanggaran terhadap hak Allah SWT, sehingga umat Islam dilarang bekerjasama dalam melaksanakannya.

Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al Maa’idah: 2)

Karena itulah umat Islam dilarang bekerjasama, membantu merayakan, ataupun menghadiri perayaan agama orang kafir, ataupun syiar-syiar syirik yang dirayakan orang musyrik.

Termasuk dalam hal ini ialah mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir.

Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahlu Dzimmah menyatakan:

Adapun memberi ucapan selamat pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau pun orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib (berhala), bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bidah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Taala.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, Ucapan selamat hari natal atau ucapan selamat lainnya yang berkaitan dengan agama kepada orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama. (Majmu Fatawa wa Rosail Ibnu Utsaimin)

Termasuk pula dalam hal ini ialah kaum muslimin juga tidak boleh mengizinkan mereka untuk menyebarkan para misionaris mereka, atau membangun tempat ibadah mereka di lingkungan kaum muslimin.

d.) Tidak mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpin dan orang kepercayaan untuk menjaga rahasia dan bertanggungjawab terhadap perkara yang penting.

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. (QS. An Nisaa’: 89)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al Maa’idah: 51)

e.) Diharamkan bagi muslimah untuk menikah dengan laki-laki kafir.

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mumin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mumin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mumin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (QS. Al Baqarah: 221)

Lihat juga QS. Al Mumtahanah: 10.

f.) Orang Islam dilarang menetap di negeri kafir. (Lihat QS. An Nisaa’: 97 99)

Rasulullah SAW bersabda: Saya berlepas diri dari seorang muslim yang tinggal di tengah-tengah musyrikin. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan dishahihkan Al Albani)

Secara umum, orang Islam dilarang pergi dan menetap di negara kafir. Namun ada beberapa hal yang mesti diperhatikan:

1. Jika di dalam sebuah negeri yang mayoritas penduduknya non muslim terdapat komunitas muslim minoritas yang merupakan penduduk asli di negara tersebut dan sudah tinggal secara turun temurun (contohnya di Filipina Selatan dan Thailand Selatan), maka orang-orang Islam tersebut harus tetap berada di negeri itu. Mereka harus menjaga kekhasan identitas Islam, mempererat persaudaraan sesama mereka, serta menjalin hubungan dengan saudara-saudara seiman di negeri-negeri muslim.

Mereka juga harus menjaga hubungan baik dengan pemerintahnya yang non muslim. Allah SWT pun memerintahkan Nabi Musa AS berbicara dengan kata-kata yang lemah lembut kepada Firaun.

Pergilah kamu berdua (Nabi Musa dan Nabi Harun) kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Thaahaa: 43 44)

2. Jika di suatu negeri non muslim terdapat orang kafir yang baru masuk Islam, maka lebih baik baginya (mustahab) untuk berhijrah ke negeri kaum muslimin. Hal ini berlaku bagi mereka yang masih mampu menampakkan keislaman (seperti mentauhidkan Allah, melaksanakan shalat, berjilbab bagi wanita, dst).

Namun jika mereka tidak mampu menampakkan keislaman, sementara di sisi lain mereka mampu berhijrah, maka saat itu mereka wajib berhijrah ke negeri kaum muslimin. Tidak boleh muslim tersebut menetap di negeri kafir kecuali dalam keadaan darurat (misalnya tidak mampu untuk berhijrah, lihat QS. An Nisaa’: 97 99).

Mengenai hal ini Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Tsalaatsatil-Ushul menyatakan bahwa tinggal di negeri kafir dibolehkan jika memenuhi beberapa syarat. Yaitu memiliki iman dan ilmu sehingga terjaga agamanya dan tidak memberikan loyalitas terhadap orang-orang kafir. Selain itu juga mampu menampakkan agamanya dan menjalankan ibadah serta syiar Islam lainnya. Bila dia tidak mampu memenuhi syarat-syarat ini, maka wajib baginya hijrah ke negara muslim. Sedangkan bagi muslim yang mampu berdakwah dan menampakkan agamanya, serta membawa kemaslahatan yang banyak bagi kaum muslimin. Maka ia disunnahkan untuk tetap tinggal di negeri kafir tersebut.

3. Orang Islam dari negeri muslim dilarang berpergian ke negeri kafir tanpa ada hajat. Namun jika ada maslahat (seperti untuk berobat, berdakwah, dan berdagang), maka ini dibolehkan asalkan memenuhi tiga syarat berikut:

- Memiliki bekal ilmu agama yang kuat sehingga dapat menolak syubhat.

- Merasa dirinya aman dari hal-hal yang dapat merusak agama dan akhlaqnya.

- Mampu menampakkan syiar-syiar Islam pada dirinya.

Apabila safarnya ke negeri kafir hanya untuk berwisata, maka hal ini bukanlah sebuah kebutuhan. Begitu pula kurang disukai jika berdagang ke negara kafir sekadar untuk mengumpulkan harta tanpa mencari persaudaraan dengan saudara-saudara muslimnya.

g.) Tidak boleh menolong, memuji, dan mendukung mereka dalam menyempitkan umat Islam. Termasuk dalam hal ini ialah tidak boleh membuka aib/rahasia orang Islam kepada orang-orang kafir.

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak meremehkannya, tidak menghinakannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh). (HR Muslim)

h.) Umat Islam telah diwajibkan untuk berbuat Ihsan kepada non muslim.

Ihsan (berbuat baik) itu jauh berbeda dengan wala. Ihsan adalah sesuatu yang wajib dilakukan terhadap muslim maupun kafir. Sedangkan bersikap wala pada orang kafir tidak diperkenankan sama sekali, walaupun mereka itu ibu-bapak, keluarga, pemimpin atau orang awam.

Dan jika keduanya (ibu-bapak) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. (QS. Luqman: 15)

Asma binti Abu Bakar ra memiliki ibu yang musyrik, yaitu Qotilah binti Abdil Uzza (istri Abu Bakar yang sudah dicerai di masa Jahiliyah), namun Asma tetap diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk tetap menjalin hubungan dengan ibunya tersebut.

Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya meriwayatkan, Asma mengatakan: Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan dengannya. Kemudian aku menanyakan pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya? Beliau pun menjawab, Iya boleh. Sufyan bin Uyainah mengatakan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya), Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al Mumtahanah: 8′)

Kaum muslimin harus berkeyakinan bahwa seorang muslim boleh berbuat baik kepada orang non muslim dalam kondisi damai, seperti memberi makan kepada mereka yang kelaparan, memberi pinjaman bagi mereka yang membutuhkan, menolong mereka dalam perkara-perkara yang mubah (boleh), berlemah-lembut dalam tutur kata, menepati perjanjian, dan seterusnya.

Mujahid berkata: “Saya pernah berada di sisi Abdullah ibnu ‘Amru sedangkan pembantunya sedang memotong kambing. Dia lalu berkata, Wahai pembantu! Jika anda telah selesai (menyembelihnya), maka bagilah dengan memulai dari tetangga Yahudi kita terlebih dahulu. Lalu ada salah seorang yang berkata, (Anda memberikan sesuatu) kepada Yahudi? Semoga Allah memperbaiki kondisi anda. Abdullah bin Amru lalu berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW berwasiat terhadap tetangga sampai kami khawatir kalau beliau akan menetapkan hak waris kepadanya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

i.) Orang-orang kafir dibagi menjadi beberapa macam, dan setiap mereka memiliki hak yang berbeda.

1. Kafir Dzimmiy, yaitu orang kafir yang tinggal di dalam negeri kaum muslimin. Berdasarkan hukum Islam, mereka diwajibkan membayar jizyah namun tidak dipungut zakat.

Penguasa kaum muslimin wajib untuk menjaga diri, harta, dan kehormatan mereka. Di sisi lain, mereka tidak dibolehkan menampakkan suatu perbuatan yang bertentangan dengan Islam. Ibadah mereka dilaksanakan di dalam lingkungan mereka sendiri.

2. Kafir Muahad, yaitu orang kafir yang tinggal di luar negeri kaum muslimin, namun pemerintah mereka terikat perjanjian untuk tidak berperang dengan kaum muslimin.

Kafir Muahad mempunyai hak agar kaum muslimin memenuhi perjanjian selama merekapun memenuhi perjanjian.

Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS. At Taubah: 4)

Umat Islam dibolehkan berdagang dengan mereka. Jika mereka memasuki perbatasan negeri muslim, maka mereka dikenakan usyur (cukai) sebagai imbangan cukai yang dikenakan kepada pedagang muslim yang memasuki negeri mereka.

3. Kafir Harbiy, yaitu orang-orang kafir yang (negaranya) memerangi kaum muslimin.

Kafir Harbiy tidak memiliki hak dari kaum muslimin untuk menjaga atau memelihara hubungan dengan mereka.

4. Kafir Mustamin, yaitu orang kafir (umumnya dari Negara Kafir Harbiy) yang mendapat jaminan keamanan dari (penguasa) kaum muslimin.

Kafir Mustamin memiliki hak untuk dijaga keamanannya oleh kaum muslimin.

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At Taubah: 6)

j.) Kaum muslimin diperintahkan untuk mendakwahi kalangan non muslimin dengan cara yang bijaksana, melalui nasihat, dan diskusi dengan cara yang paling baik.

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)”. (QS. Asy Syuura: 15)

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka. (QS. Al ‘Ankabuut: 46)

Kesimpulan

Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam. Semua agama selain Islam (baik yang samawi maupun non samawi) adalah tidak benar.

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imrn : 85)

Namun umat Islam tetap diperbolehkan bergaul dengan umat non Islam sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Sunnah.

Diskusi:

  1. Bolehkah kita bergaul dengan orang Islam yang fasiq?
  2. Bolehkah kita bergaul dengan orang yang mengaku muslim namun meyakini bahwa ada nabi terakhir setelah Nabi Muhammad SAW?

Bahan bacaan lainnya:

Kitab Tauhid oleh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Al Wala wal Bara oleh Said Hawwa


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post