Fasiq, Kufur, dan Nifaq

23 Sep 2011

Fasiq, Kufur, dan Nifaq

Tujuan

  • Peserta memahami perbedaan fasiq, kufur, dan nifaq
  • Peserta berusaha menghindari perbuatan dosa besar
  • Peserta berusaha menghindari sifat kufur dan nifaq

Pertanyaan awal

Kita sering mendengar istilah fasiq, kufur, dan nifaq. Lalu apakah perbedaan tiga istilah tersebut?

Pembahasan

Fasiq berasal dari akar kata fasaqa-yafsiqu/yafsuqu-fisqan-fusuuqan. Al Qurthubi dalam Tafsir Al Qurthubi menyebutkan bahwa secara etimologis/bahasa, Al Fisq (fasiq) berarti keluar dari sesuatu.

Sedangkan Ibnu Manzhur dalam Lisan Al Arab menjelaskan bahwa secara terminologis/istilah, Al Fisq bermakna maksiat, meninggalkan perintah Allah, dan menyimpang dari jalan yang benar. Hal ini dapat dilihat dalam QS. Al Kahfi: 50; fa fasaqa an amri rabbihi / maka ia (iblis) mendurhakai perintah Tuhannya.

Sehingga seseorang dapat disebut fasiq jika sering berbuat dosa.

Orang-orang yang terus menerus melakukan dosa besar, menganggap dosa besar adalah hal yang biasa, dan menolak untuk meninggalkan dosa besar, maka mereka dapat tertutup serta mati hatinya sehingga bisa menjadi munafik dan kafir.

Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (QS. Al Baqarah: 26)

Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. Al Munaafiquun: 6)

Sehingga istilah fasiq dapat dibagi dua:

1. Fasiq kecil, yaitu orang Islam yang sering berbuat maksiat namun masih memiliki iman dalam hatinya.

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An Nuur: 4)

2. Fasiq besar, yaitu orang kafir dan munafik dimana mereka sudah tidak memiliki iman dalam hatinya.

Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya. (QS. As Sajdah: 20)

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. At Taubah: 67)

Namun pada umumnya, jika para ulama menyebut istilah fasiq tanpa tambahan kata besar/kecil maka yang dimaksudkan ialah fasiq kecil.

Kufur berasal dari kata kafara yang berarti menutupi, menolak, mendustakan, ingkar, dan tidak percaya. Sedangkan secara istilah bermakna tidak beriman kepada Allah dan rasulNya.

Kufur dibagi dua:

1. Kufur besar, yaitu menolak kebenaran Islam baik secara keseluruhan maupun sebagian, termasuk dalam hal ini ialah mengakui kebenaran Islam tetapi enggan melaksanakannya.

Kufur besar menyebabkan pelakunya berada di luar dari Dienul Islam. Orang yang melakukan perbuatan kufur besar disebut kafir.

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak (kenabian Nabi Muhammad SAW) tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? (QS. Al ‘Ankabuut: 68)

2. Kufur kecil, yaitu melakukan dosa-dosa yang disebutkan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Kufur kecil tidak menjadikan pelakunyaberada di luar Dienul Islam. Orang yang melakukan perbuatan kufur kecil tidak disebut sebagai kafir, namun tergolong sebagai pelaku dosa besar. Kufur kecil jika dilakukan terus menerus dapat membuka jalan bagi pelakunya untuk melakukan perbuatan kufur besar.

Dosa-dosa yang tergolong kufur kecil antara lain:

a.) Kufur nikmat.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.(QS. An Nahl: 83)

b.) Bersumpah dengan nama selain Allah.

“Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik.(HR. At Tirmidzi dan dihasankannya, sertadishahihkan oleh Al Hakim)

Mengenai riwayat yang menceritakan bahwa Nabi SAW membolehkan bersumpah atas nama orang tua (misalkan Demi Ayahnya), maka Syaikh Al Utsaimin (dalam Fatwa-Fatwa Terkini, penerbit Darul Haq) menyebutkan bahwa ini termasuk Mutasyabih, sementara masalah bersumpah atas nama selain Allah termasuk Muhkam.

Disebut Mutasyabih karena terdapat banyak kemungkinan. Bisa jadi hadits tersebut ada sebelum datangnya larangan tentang hal itu. Bisa jadi juga ia khusus bagi Rasulullah SAW saja dalam mengungkapkan lafazh seperti itu. Bisa jadi pula ia hanya merupakan sesuatu yang terbiasa diucapkan lisan tanpa maksud sebenarnya.

Dalam hal ini cara yang ditempuh oleh para ulama salafus shalih ialah meninggalkan yang Mutasyabih, dan mengambil yang Muhkam. Hal ini senada dengan kandungan QS. Ali Imran: 7. Sehingga menjadi kewajiban kita untuk mengambil sesuatu yang sudah Muhkam, yaitu larangan bersumpah atas nama selain Allah.

c.) Mengakui bapak kepada orang yang bukan bapaknya padahal ia tahu.

Dari Abu Dzar, dia mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada seorang lelakipun yang mengakui bapak kepada orang yang bukan bapaknya padahal ia tahu (kalau itu bukan bapaknya), kecuali dia telah kufur. ... (HR Bukhari)

d.) Kufur kepada suami dan kebaikannya.

Nabi SAW bersabda: Aku diperlihatkan neraka, tiba-tiba (aku lihat) kebanyakan penghuninya adalah perempuan yang kufur. Kemudian Nabi SAW ditanya: Apakah mereka kufur kepada Allah? Beliau SAW menjawab: Mereka kufur kepada suami dan kebaikannya. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka selama setahun, kemudian dia melihat sesuatu yang mengecewakan, dia akan berkata, Saya tidak pernah melihat kebaikanmu sedikitpun. (HR. Bukhari)

e.) Membunuh orang Islam.

“Mencaci orang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran.(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Janganlah kalian sepeninggalku kembali lagi menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain. (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang muslim yang membunuh sesama muslim tidak lantas disebut kafir. Bahkan dalam QS. Al Baqarah: 178 disebutkan kata saudara (seiman) antara si pembunuh dengan wali yang berhak melakukan qishaash. Namun membunuh tetap merupakan dosa besar yang tidak boleh dilakukan.

Nifaq berasal dari kata nafiqaa yang berarti salah satu lubang tempat keluarnya yarbu (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, dimana jika ia dicari di lubang yang satu maka ia akan keluar dari lubang yang lain.

Secara istilah nifaq bermakna menampakkan keislaman secara zhahir namun menyembunyikan kekafiran dari masyarakat muslim pada umumnya.

Nifaq dibagi dua:

1. Nifaq besar, dimana pelakunya menampakkan keislaman tetapi menyembunyikan kekufuran. Nifaq ini menjadikan pelakunya keluar dari Dienul Islam, dan pelakunya disebut munafik.

Ciri-ciri orang munafik antara lain:

a.) Mendustakan Rasulullah SAW atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.

b.) Membenci Rasulullah SAW atau membenci sebagian dari apa yang beliau bawa.

c.) Merasa gembira dengan kemunduran Islam.

d.) Tidak senang dengan kemenangan Islam.

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (QS. Al Munaafiquun: 1 3)

2. Nifaq kecil, yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hatinya. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Dienul Islam. Namun jika amal nifaqnya dilakukan terus menerus, maka akan bisa menjadi sebab terjerumusnya dia ke dalam nifaq besar.

Amal-amal nifaq antara lain:

a.) Berkhianat jika diberi kepercayaan.

b.) Berdusta jika berbicara.

c.) Ingkar jika berjanji.

d.) Berbuat curang/melampaui batas jika berselisih/berkompetisi.

e.) Berat melaksanakan sholat Isya dan Subuh berjamaah.

Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafik yang sesungguhnya, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika berseteru dia berbuat kefajiran. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesimpulan

Dalam diri seorang manusia dapat terkumpul kebiasaan-kebiasaan baik dan kebiasaan-kebiasaan buruk, sifat iman sekaligus sifat kemunafikan atau kekafiran. Sehingga seorang muslim yang masih memiliki iman, tatkala melakukan perbuatan dosa besar tidaklah langsung disebut sebagai kafir, kecuali jika ia telah jatuh pada perbuatan kufur besar.

Kondisi keimanan mengalami naik turun; naik karena ibadah, dan turun karena maksiat. Karena itulah manusia harus selalu menjaga ibadah dan menjauhi maksiat. Sehingga keimanan tidak dikotori oleh kefasikan, apalagi dilenyapkan oleh nifaq dan kekufuran.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. An Nisaa’: 145)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. Al Bayyinah: 6)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. An Nisaa’: 168 169)

Diskusi:

  1. Sebutkan contoh-contoh dosa besar dan dosa kecil!
  2. Bagaimana sikap kita saat menghadapi orang munafik?

Bahan bacaan lainnya:

Kitab Tauhid oleh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post