Nawaqid Al-Islam (Pembatal Keislaman)

23 Sep 2011

Nawaqid Al-Islam (Pembatal Keislaman)

Tujuan

  • Peserta meyakini untuk tidak bermain-main dengan keimanan
  • Peserta memahami batasan-batasan pembatal keislaman
  • Peserta termotivasi untuk mempelajari ilmu tauhid

Pertanyaan awal

Jika Islam diibaratkan sebagai koridor, maka ada batas koridor dan ada garis tengah koridor. Lebih aman berjalan di garis tengah koridor, kalaupun terpaksa agak ke pinggir sedikit, tapi tetap harus tahu batasan agar tidak keluar dari koridor Islam.

Apa saja batasan-batasan yang menjadi pembatal keislaman?

Pembahasan

Berikut ini beberapa contoh pembatal keislaman, antara lain:

PERTAMA: Syirik dalam ibadah kepada Allah taala.

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al An’aam: 88)

KEDUA: Menjadikan adanya perantara antara dirinya dengan Allah. Mereka berdoa, meminta syafaat, dan bertawakkal kepada perantara tersebut.

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah. Katakanlah: Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Yunus: 18)

KETIGA: Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik (pelaku syirik besar) atau ragu tentang kekafiran mereka atau membenarkan pendapat mereka.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahanam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. Al Bayyinah: 6)

KEEMPAT: Berkeyakinan bahwa ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk nabi Muhammad SAW atau berkeyakinan bahwa ada hukum yang lebih baik dari hukum Islam.

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Rasulullah) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisaa’: 65)

KELIMA: Membenci sesuatu diantara apa-apa yang Rasulullah SAW datang dengannya, walaupun dia mengamalkannya.

Dan tidak ada yang menghalangi nafkah-nafkah mereka untuk diterima melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidaklah mereka mengerjakan sholat, melainkan dengan rasa malas dan tidak (pula) mereka menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. (QS. At Taubah: 54)

KEENAM: Merendahkan suatu perkara dari agama Islam atau merendahkan ganjaran kebaikan atau ancaman adzab dalam agama Islam.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kalian memperolok-olok? Tidak usah kalian meminta udzur, sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman. (QS. At Taubah: 65-66)

KETUJUH: Sihir.

Termasuk dari perbuatan sihir antara lain: ilmu santet, ilmu kebal, ilmu pelet, ilmu pengasihan, ilmu penglaris dagangan, tenaga dalam yang menyebabkan pemiliknya memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya tanpa ada sebab-sebab yang zhohir ataupun syari, ilmu gendam, dsj.

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). (QS. Al-Baqarah: 102)

KEDELAPAN: Meninggikan kaum musyrikin dan menolong mereka di atas kaum muslimin.

Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (QS. Al Maidah: 51)

KESEMBILAN: Berkeyakinan bahwa ada sebagian manusia yang diberi keistimewaan (kelonggaran) untuk tidak menjalankan kewajiban-kewajiban dalam syariat Islam.

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba: 28)

Syariat Islam adalah untuk seluruh manusia. Setiap muslim wajib menjalankan kewajiban-kewajiban dalam syariat Islam, tanpa ada pengecualian. Tidak ada manusia (setelah diutusnya Nabi SAW) yang memiliki kekhususan untuk tidak menjalankan syariat Islam. Bahkan seandainya nabi Musa alaihi salam hidup pada zaman kita ini, maka beliaupun akan tunduk pada syariat Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam.

Seandainya Musa hidup diantara kalian, maka tidak ada baginya pilihan kecuali mengikutiku. (HR. Ahmad)

KESEPULUH: Meninggalkan syariat Allah; tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya.

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, Kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (QS. As Sajadah: 22)

PENGHALANG-PENGHALANG PEMBATAL KEISLAMAN

Ada beberapa perkara yang menjadikan udzur atau penghalang bagi seseorang untuk dihukumi kafir walaupun perbuatan yang dia lakukan pada dasarnya telah membatalkan keislaman.

Pertama: Jahil atau bodoh (dalam keadaan tidak tahu).

Dan kami tidak akan mengazab sebelum kami mengutus seorang rasul. (QS. Al Israa: 15)

Kedua: Tidak sengaja.

Ketiga: Lupa.

Keempat: Dalam keadaan dipaksa.

Dalil ketiga hal di atas antara lain, dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya Allah memberikan keringanan bagi umatku (dari perbuatan dosa); (yaitu karena) salah (tidak sengaja), lupa, dan sesuatu yang dipaksakan kepadanya untuk melakukannya. (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Allah murka kepadanya), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (tidak ada dosa baginya), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. An Nahl: 106)

Kelima: Tertutup akalnya.

Pena diangkat dari tiga orang (malaikat tidak mencatat apa-apa dari tiga orang), yaitu: orang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia dewasa, dan orang gila hingga ia berakal normal atau sembuh.

(HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasai, dan Ibnu Majah)

Kesimpulan

Umat Islam harus mengetahui batasan-batasan perbuatan yang dapat membatalkan keislaman. Namun hendaknya seseorang tidak bermudah-mudah dalam menghukumi kafirnya seseorang, karena perkara ini bukanlah perkara yang remeh. Hendaknya kaum muslimin mengembalikan urusan-urusan besar seperti ini kepada para ulama dan tidak gegabah dalam menghukumi kafirnya seseorang. Karena menghukumi kafirnya seseorang akan terkait dengan gugurnya hak-hak orang tersebut sebagai muslim; seperti tidak boleh dijawab salamnya, tidak boleh mewarisi harta ahli warisnya yang muslim dan juga sebaliknya, jika meninggal maka tidak boleh disholatkan, serta perkara-perkara lainnya yang terkait dengan keislamannya.

Diskusi:

  1. Apakah hukumnya seorang muslim yang tidak pernah mengamalkan syariat Islam dan tidak mau mempelajarinya?
  2. Apakah hukumnya seorang muslim yang mengimani sebagian isi Al Quran dan menolak sebagian lainnya dengan alasan tidak sesuai akal dan kemanusiaan (misalnya qishash)?

Bahan bacaan lainnya:

Syarah Nawaqidul Islam oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat oleh Muhammad Jamil Zainu


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post