Vonis Masalah Keimanan

23 Sep 2011

Vonis Masalah Keimanan

Tujuan

  • Peserta meyakini bahwa masalah keimanan memiliki dampak yang luas
  • Peserta tidak mudah memvonis dalam masalah keimanan
  • Peserta mampu membedakan antara kekafiran dengan keimanan

Pertanyaan awal

Amal yang dapat membatalkan keislaman sudah kita ketahui melalui Nawaqid Al Islam. Namun apakah dengan demikian kita boleh memvonis keimanan seorang muslim secara serampangan?

Pembahasan

Keimanan berada dalam hati dan hanya Allah SWT yang tahu secara pasti. Namun manusia tetap dapat memperkirakan melalui perbuatan dan perkataan yang dikeluarkan. Walaupun demikian tetap harus berhati-hati dalam memvonis keimanan seseorang. Beberapa contoh larangan agar tidak mudah memvonis keimanan, antara lain:

1. Larangan mudah menuduh/memanggil seorang muslim dengan sebutan fasiq.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, beliau mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seseorang menuduh orang laindengan kata fasiq, dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan. (HR. Bukhari)

2. Larangan mudah menuduh/memanggil seorang muslim dengan sebutan kafir.

Apabila ada seseorang yang mengkafirkan saudaranya (seiman) maka salah satu dari keduanya akan tertimpa kekufuran. (HR. Muslim)

3. Larangan mudah menuduh/memanggil seorang muslim dengan sebutan musuh Allah.

Dan barangsiapa yang memanggil seseorang dengan panggilan kafir atau musuh Allah padahal yang dituduh tidak kafir, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh. (HR. Bukhari)

4. Larangan mudah berkata Allah tidak akan mengampuni si fulan.

Rasulullah SAW bersabda bahwa ada seorang lelaki yang berkata: Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan. Maka Allah berfirman: Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapuskan amalmu. (HR. Muslim)

5. Larangan mudah memvonis bahwa si fulan akan masuk neraka/surga.

Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Ada dua orang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang saling bersaudara. Yang satu rajin ibadah dan lainnya berbuat dosa. Lelaki yang rajin beribadah selalu berkata kepada saudaranya, Hentikan perbuatan dosamu! Suatu hari ia melihat saudaranya berbuat dosa dan ia berkata lagi, Hentikan perbuatan dosamu! Dan dijawab, Biarkan antara aku dan Tuhanku. Apakah kamu diutus untuk mengawasiku? Ia pun berkata lagi, Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu atau Dia tidak akan memasukanmu ke surga. Kemudian Allah mengutus malaikat kepada keduanya untuk mengambil ruh keduanya hingga berkumpul di sisi-Nya. Allah berkata kepada orang yang berdosa itu, Masuklah kamu ke surga berkat rahmat-Ku. Lalu Allah bertanya kepada lelaki yang rajin beribadah, Apakah kamu mampu menghalangi antara hamba-Ku dan rahmat-Ku? Dia menjawab, Tidak, wahai Tuhanku. Allah berfirman untuk yang rajin beribadah (kepada para malaikat): Bawalah dia masuk ke dalam neraka. Abu Hurairah berkomentar, Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia berkata dengan satu kalimat yang membinasakan dunia dan akhiratnya.(HR. Abu Dawud)

Ketika seorang muslim menuduh saudaranya kafir, dan ternyata tuduhan itu salah, maka tuduhan itu akan kembali kepada orang yang menuduh.

Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya hai orang kafir, maka kata itu akan menimpa salah satunya. Jika benar apa yang diucapkan (berarti orang yang dituduh menjadi kafir), jika tidak maka tuduhan itu akan menimpa orang yang menuduh. (HR. Muslim)

Sehingga konsekuensinya, si penuduh akan terkena dosa mencela dan mengkafirkan saudaranya. Jika hal ini dilakukan terus menerus maka dapat menyeret pelakunya kepada kekufuran. Yaitu ketika si pelaku telah meyakini dan juga menerapkan gugurnya hak-hak muslim dari orang yang dituduh; seperti tidak boleh dijawab salamnya, tidak boleh mewarisi harta ahli warisnya yang muslim dan juga sebaliknya, jika meninggal maka tidak boleh disholatkan, serta perkara-perkara lainnya yang terkait dengan keislamannya.

Kesimpulan

Seringkali vonis kafir dan sejenisnya dilakukan saat menemui pelaku dosa. Namun perlu diketahui bahwa dakwah Islam dilakukan dengan mendahulukan hikmah dan kelembutan.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. An Nahl: 125)

Panggilan kafir dan sejenisnya cenderung membuat orang yang dituduh menjadi marah. Lalu syaithan mendorongnya untuk terus-menerus melakukan perbuatan dosa.

Namun ada pula jenis manusia yang telah mati hatinya. Dakwah dengan hikmah dan cara yang baik tidak dihiraukannya, malah ia semakin terang dalam memusuhi Islam. Maka terhadap orang seperti ini, kita boleh mengingatkan masyarakat akan kejahatannya.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kalian memperolok-olok? Tidak usah kalian meminta udzur, sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman. (QS. At Taubah: 65-66)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Al Quran pun menyebut kafir terhadap orang-orang munafik yang mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya. Namun kita tetap harus menyerahkan urusan ini kepada para ulama.

Yang juga perlu diingat ialah agar kita tidak mendahului Allah dan bersikap seolah kitalah yang paling tahu akan kondisi seseorang di akhirat nanti. Hal ini tercermin dalam hadits pada poin Larangan mudah berkata Allah tidak akan mengampuni si fulan.

Begitu pula dalam hadits pada poin Larangan mudah memvonis bahwa si fulan akan masuk neraka/surga. Seorang lelaki bani Israel yang rajin ibadah, dikarenakan emosi dan sombong, telah mendahului Allah dengan memvonis saudaranya tidak akan diampuni Allah atau tidak akan masuk surga. Padahal ampunan dan surga Allah tersedia bagi setiap hambanya selama hambanya bertaubat sebelum mati.

Diskusi:

  1. Bagaimana sikap kita saat bertemu seorang muslim yang perbuatan dan perkataannya telah jatuh pada kekafiran?
  2. Bagaimana sikap kita saat bertemu seorang muslim yang melakukan perbuatan dosa?

Bahan bacaan lainnya:

Syarah Sahih Muslim oleh Imam Nawawi

Fathul Bari: Syarah Shahih Bukhari oleh Al Hafidz Ibnu Hajar


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post