Mengenal Shalat

10 Nov 2011

Mengenal Shalat

Tujuan

  • Peserta meyakini pentingnya ibadah shalat
  • Peserta memahami bahaya dari meninggalkan shalat
  • Peserta termotivasi untuk selalu melaksanakan shalat wajib

Pertanyaan awal

Shalat merupakan Rukun Islam kedua setelah Dua Kalimat Syahadat. Lantas apa saja keutamaan ibadah shalat, dan akibat jika tidak melaksanakannya?

Pembahasan

Secara bahasa, shalat artinya adalah berdoa. Sedangkan menurut istilah, shalat adalah suatu perbuatan dan perkataan yang diikuti oleh hati serta dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.

Shalat merupakan ibadah yang telah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul. Nabi Ibrahim telah berdoa agar keturunannya mendirikan shalat (lihat QS. Ibrahim: 37). Nabi Musa pun telah menerima wahyu untuk mendirikan shalat (lihat QS. Thaahaa: 13 - 14).

Pada tahun pertama kenabian sudah ada perintah shalat wajib. Ibnu Hajar menuturkan bahwa sebelum Isra’ Miraj, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah melakukan shalat dan begitu pula para shahabat. Tapi terdapat perbedaan pendapat, apakah shalat yang diwajibkan tersebut adalah shalat lima waktu ataukah bukan. Ada yang berpendapat bahwa yang diwajibkan pada masa itu adalah shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya matahari. Hal ini berdasarkan ayat: dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (QS. Al Mu’min: 55)

Namun jumhur ulama berpendapat bahwa shalat yang wajib pertama kali adalah shalat malam, berdasarkan QS. Al Muzzammil: 1 - 19. Selain shalat malam tersebut, dilaksanakan pula shalat sunnah pada waktu pagi dan petang. Shalat malam sendiri kemudian hukumnya menjadi sunah setelah turun QS. Al Muzzammil: 20.

Setelah peristiwa Isra’ Miraj, maka shalat yang wajib dilaksanakan adalah shalat wajib lima waktu, yaitu; Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya.

Nabi bersabda: Allah telah mewajibkan kepada umatku pada malam isra (miraj) lima puluhkali shalat, maka aku selalu kembali menghadap-Nya dan memohon keringanan sehingga dijadikan kewajiban shalat itu lima kali dalam sehari semalam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Shalat

Shalat dalam Islam menempati kedudukan yang sangat penting. Berikut ini beberapa contoh keutamaan shalat, antara lain:

1. Allah Taala telah berulang kali menyebutkan shalat di dalam Al Quran, beberapa diantaranya ialah;

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al ‘Ankabuut: 45)

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaahaa: 14)

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al Baqarah: 45 - 46)

2. Allah Taala mengancam orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan shalat.

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam: 59)

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. Al Maauun: 4 - 5)

3. Shalat adalah tiangnya agama Islam.

Rasulullah bersabda: Intisari perkara adalah Islam dan tiangnya adalah shalat. (HR. Tirmidzi)

4. Shalat merupakan pembeda antara orang Islam dengan orang kafir.

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka ada pada Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Shalat merupakan pencuci kesalahan dan dosa (kecuali syirik dan dosa-dosa besar).

Rasulullah bersabda: Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang melimpah, yang mengalir di depan pintu rumah seorang dari kalian. Ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali. (HR. Muslim)

6. Shalat merupakan amal yang pertamakali dihisab.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata bahwa Nabi alaihishshalatu wassalam bersabda: Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Allah Azza wa Jalla berfirman kepada para malaikat-Nya (walaupun Dia lebih mengetahui), Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang? Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya. Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian. (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah)

7. Shalat merupakan ikatan Islam yang paling akhir terurai sebelum kehancuran alam semesta dalam Kiamat Kubra.

Dari Abu Umamah Al Bahili, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda: Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah hukum dan yang paling akhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)

Hukum Meninggalkan Shalat

1. Meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya atau menolak syariat shalat (walaupun tetap mengaku muslim) adalah kafir dan keluar dari agama Islam berdasarkan ijma para ulama.

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al Muddatstsir: 42 - 43)

Dari Buraidah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda, Perjanjian yang telah ditetapkan antara kami dengan mereka adalah (menegakkan) shalat, karena itu barangsiapa yang telah meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir. (HR. Ibnu Majah, Nasai, dan Tirmidzi)

Seorang tabiin, Abdullah bin Syaqiq, mengatakan: Dulu para shahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat. (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Hakim)

Dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah bersabda: Akan diangkat penguasa untuk kalian. Lalu engkau mengenalinya dan kemudian engkau ingkari (karena kejahatannya). Barangsiapa yang mengingkarinya, ia telah berlepas tangan. Barangsiapa yang benci, sungguh ia telah selamat. Akan tetapi, lain halnya dengan orang yang ridha dan patuh terhadap pemimpin tersebut. Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memeranginya? Beliau menjawab: Tidak, selama mereka mengerjakan shalat. (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa shalat merupakan batasan untuk boleh atau tidaknya memerangi seorang pemimpin muslim, sedangkan kebolehan untuk diperangi umumnya diberlakukan terhadap orang-orang kafir yang memusuhi Islam.

2. Sedangkan orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja karena lalai/malas sementara dia masih beriman dan meyakini kewajiban shalat, maka para ulama berbeda pendapat apakah dia sudah termasuk kafir ataukah fasik.

Jumhur ulama berpendapat bahwa seorang muslim yang tidak pernah melaksanakan shalat karena lalai atau malas atau disibukkan urusan dunia (misalnya mengurus harta, keluarga, pemerintahan), namun masih beriman dan meyakini kewajiban shalat, maka sudah jatuh pada kekufuran, tetapi kondisinya di neraka (apakah kekal ataukah sementara) dikembalikan pada kehendak Allah Taala.

Shalat lima waktu Allah wajibkan atas hamba-hamba-Nya. Siapa yang mengerjakannya tanpa menyia-nyiakan di antara kelima shalat tersebut karena meremehkan keberadaannya maka ia mendapatkan janji dari sisi Allah untuk Allah masukkan ke surga. Namun siapa yang tidak mengerjakannya maka tidak ada baginya janji dari sisi Allah, jika Allah menghendaki maka Allah akan mengazabnya, dan jika Allah menghendaki maka Allah akan mengampuninya. (HR. Abu Dawud)

Para ulama, di antaranya Abu Hanifah, Malik, serta Syafii, berpendapat bahwa orang yang tidak pernah melaksanakan shalat namun masih mengakui kewajiban shalat, maka ia harus disuruh bertaubat. Pemerintah boleh menahannya (dipenjara) dan dihukum sampai ia melaksanakan shalat. Hal ini agar perbuatannya yang meninggalkan shalat tidak diikuti oleh muslim yang lain.

Dalam kitab Al-Majmu, Al-Minhaj, dan Nailul Authar, disebutkan bahwa para ulama mazhab Malikiyyah dan Syafiiyyah menambahkan jika orang tersebut tetap tidak mau bertaubat maka dihukum bunuh, namun jenazahnya tetap dikuburkan di pemakaman muslimin karena secara zhahir ia masih mengaku beriman. Pelaksana hukuman tersebut adalah pemerintah yang berwenang, dan bukan individu ataupun organisasi.

3. Orang Islam yang tidak rutin dalam melaksanakan shalat, yaitu kadang shalat dan kadang tidak, maka dia masih dianggap sebagai muslim. Namun dia mendapat dosa besar atas setiap shalat wajib yang ditinggalkan.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah, dalam kitab Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, mengatakan: Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (artinya mereka sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar, dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.

Adz Dzahabi dalam kitab Al Kabair (pembahasan dosa-dosa besar), mengutip Ibnu Hazm yang berkata: Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.

Adz Dzahabi dalam kitab Al Kabair tersebut kemudian menyatakan: Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya berarti telah melakukan suatu dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan (yaitu satu shalat saja) dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar, maka orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar (fasik) sampai dia bertaubat.

Kesimpulan

Shalat merupakan ibadah yang sangat penting di dalam Islam, dan menjadi ciri khas umat Islam. Sekali saja seorang muslim dengan sengaja tidak melaksanakan shalat wajib, berarti dia telah melakukan suatu amal dosa besar.

Dampak shalat dapat terlihat dari akhlak seseorang. Karena seseorang yang shalat dengan benar dan khusyu, maka akhlaknya pun akan terjaga dari melakukan perbuatan keji dan mungkar. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. (QS. Al ‘Ankabuut: 45)

Diskusi:

  1. Siapa sajakah yang wajib menegakkan shalat?
  2. Apakah hukum dari Shalat Jenazah, Shalat Jumat, dan Shalat Wajib Lima Waktu Berjamaah?

Bahan bacaan lainnya:

Fiqhus Sunnah oleh Sayyid Sabiq

Kitab Shalat oleh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post