Birrul Walidain

5 Jan 2012

Birrul Walidain

Tujuan

  • Peserta meyakini kewajiban berbakti kepada kedua orang tua
  • Peserta memahami batasan berbakti kepada kedua orang tua
  • Peserta termotivasi untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua

Pertanyaan awal

Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan bagian dari Dienul Islam. Lantas apa saja keutamaan dan batasan dari Birrul Walidain?

Pembahasan

Al Birr bermakna kebaikan. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda: “Al Birr adalah baiknya akhlaq.” (HR. Muslim)

Sehingga Birrul Walidain berarti berbuat baik kepada kedua orang tua, menjauhi apa-apa yang tidak mereka sukai, serta mentaati mereka selama tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah.

Hukum Birrul Walidain

Para ulama sepakat bahwa hukum Birrul Walidain adalah fardhu (wajib) bagi setiap individu.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “uf (ah)” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (QS. Al Israa’: 23 - 24)

Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, ini menunjukkan betapa besarnya hak ibu-bapak. Ayat ini juga menjelaskan bahwa pemeliharaan kedua orang tua yang telah memasuki usia lanjut merupakan tanggung jawab sang anak. Sang anak pun dilarang mengucapkan keluhan atau keengganan secara halus, apalagi kata-kata kasar secara langsung. Sang anak harus rendah hati terhadap keduanya dan mendoakan keduanya baik semasa hidupnya mereka ataupun sesudah meninggalnya.

Keutamaan Birrul Walidain

Pertama: Merupakan salah satu bentuk peribadatan kepada Allah

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS. An Nisaa’: 36)

Dalam ayat ini, kalimat berbuat baik kepada ibu-bapak merupakan kalimat perintah (menunjukkan kewajiban), posisinya pun terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan Allah.

Kedua: Sebagai salah satu bentuk bersyukur kepada Allah

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam (selambat-lambatnya) dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Imam Adz Dzahabi dalam kitab Al Kabaair, terkait dengan ayat di atas, menyebutkan bahwa Ibnu Abbas berkata:Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, maka tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu.”

Ketiga: Termasuk amalan yang paling mulia

Dari Abdullah bin Masud, dia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah? Bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam: “Shalat tepat pada waktunya.” Saya bertanya: Kemudian apa lagi? Bersabada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam: “Berbuat baik kepada kedua orang tua.” Saya bertanya lagi: Lalu apa lagi? Maka Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat: Sebagai salah satu amal shalih yang dapat menjadi sarana tawassul

Tawassul adalah melakukan segala bentuk ketaatan yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. Beberapa contoh tawassul yang dibolehkan antara lain melalui asmaul husna, shalawat, meminta didoakan oleh orang shalih yang masih hidup, dan melalui amal shalih.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang tiga orang yang melakukan perjalanan, lalu kehujanan, dan mereka berteduh pada sebuah gua di kaki gunung. Namun tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua. Kemudian mereka berdoa kepada Allah dengan bertawassul menyebutkan amal terbaik yang pernah mereka lakukan. Salah satu diantara mereka berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku mengembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang telah larut malam dan kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana biasanya. Kemudian aku mendatangi keduanya namun mereka masih tertidur pulas sedangkan aku tidak tega untuk membangunkannya. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Susu tersebut tetap aku pegang hingga fajar saat orang tuaku bangun, lalu aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anaku. Ya Allah, seandainya perbuatan tersebut ialah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutup ini. Maka dengan doa tiga orang tersebut terbukalah batu yang menutupi gua. (HR. Muslim)

Kelima: Anak lelaki satu-satunya dalam keluarga lebih diutamakan untuk menjaga orang tuanya daripada pergi berjihad

Pernah seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu, yaitu Jaahimah, datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasihat pada anda.” Maka Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Apakah kamu masih memiliki Ibu?” Berkata dia: “Ya.” Bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam: “Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu di bawah telapak kakinya.” (HR. Nasai dan Ahmad)

Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta ijin kepadanya untuk ikut berjihad. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Dia menjawab: “Ya.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Berjihadlah (dengan berbakti) pada keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keenam: Merupakan salah satu sebab keridhaan Allah

Rasulullah ShalallahuAlaihi Wassallam bersabda: “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Ketujuh: Termasuk sebab masuknya seseorang ke surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Celaka, celaka kemudian celaka. Kemudian ada seseorang yang bertanya: Siapakah dia (yang celaka) ya Rasulullah? Beliau menjawab: “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

Kedudukan Ibu Dibandingkan Ayah

Birrul Walidain berlaku terhadap ibu dan bapak. Namun hendaknya bakti terhadap ibu lebih besar daripada terhadap ayah. Karena ibu telah banyak berkorban sejak dari masa mengandung.

Dari Al Mughirah bin Syubah, dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi (bakhil) tetapi meminta-minta. Dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu bertanya: “Ya Rasulullah! Siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Bapakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Batasan Birrul Walidain

Berbuat baik terhadap kedua orang tua bukan berarti harus melaksanakan semua perintah mereka. Anak wajib menolak perintah orang tua jika bertentangan dengan tauhid. Namun walaupun memiliki perbedaan akidah, sang anak harus tetap bergaul dengan orang tuanya secara baik dalam kehidupan sehari-hari.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman: 15)

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu berkata: “Diturunkan ayat ini (QS. Luqman: 15) berkaitan dengan masalahku. Aku adalah seorang yang berbakti kepada ibuku, maka tatkala aku masuk Islam, ibuku berkata: Wahai Sa’ad apa yang aku lihat dengan apa yang baru darimu? Tinggalkan agama barumu itu! Kalau tidak, aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati sehingga kamu dicela dengan sebab kematianku dan kau akan dipanggil dengan sebutan wahai pembunuh ibunya. Maka aku katakan kepadanya: Jangan kau lakukan wahai ibuku, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk siapa saja. Maka dia (ibu Sa’ad) diam, tidak makan selama sehari semalam, maka dia kelihatan sudah payah. Kemudian dia tidak makan sehari semalam lagi, maka kelihatan semakin payah. Maka tatkala aku melihatnya, aku berkata kepadanya: Hendaklah kau tahu wahai ibuku, seandainya kau memiliki seratus nyawa, dan nyawa itu melayang satu demi satu, maka tidak akan aku tinggalkan agama ini karena apapun juga. Maka kalau kau mau makan, makanlah. Kalau tidak, maka jangan makan. Lantas diapun (ibu Saad) makan.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Beberapa Contoh Birrul Walidain

1.) Suatu hari Ibnu Umar melihat seseorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Kabah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar: Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku? Ibnu Umar menjawab: Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan. (kitab al-Kabair, oleh adz-Dzahabi)

2.) Dari Anas bin Nadzr al-Asyjai, beliau bercerita, bahwa suatu malam ibu dari Ibnu Masud meminta air minum. Setelah Ibnu Masud datang membawa air minum, ternyata sang ibu sudah tertidur. Akhirnya Ibnu Masud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi. (kitab Birrul walidain, oleh Ibnu Jauzi)

3.) Kisah Uwais al-Qarni.

Dari Usair bin Jabir, dia berkata: “Ketika Umar bin Khaththab (saat itu ia menjabat sebagai khalifah) didatangi oleh rombongan orang-orang Yaman, ia selalu bertanya kepada mereka, ‘Apakah ada Uwais bin Amir dalam rombongan kalian?’ Hingga pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khaththab bertemu dengan Uwais seraya bertanya, “Apakah kamu Uwais bin Amir?” Uwais menjawab, “Ya. Benar, saya adalah Uwais.” Khalifah Umar bertanya lagi, “Kamu berasal dari Murad dan kemudian dari Qaran?” Uwais menjawab, “Ya benar.” Selanjutnya Khalifah Umar bertanya lagi, “Apakah kamu pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar mata uang dirham pada dirimu?” Uwais menjawab, “Ya benar.” Khalifah Umar bertanya lagi, “Apakah ibumu masih ada?” Uwais menjawab, “Ya, ibu saya masih ada.” Khalifah Umar bin Khaththab berkata, “Hai Uwais, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Uwais bin Amir akan datang kepadamu bersama rombongan orang-orang Yaman yang berasal dari Murad kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar uang dirham. Ibunya masih hidup dan ia selalu berbakti kepadanya. Kalau ia bersumpah atas nama Allah maka akan dikabulkan sumpahnya itu, maka jika kamu dapat memohon agar dia memohonkan ampunan untuk kalian, lakukanlah.’ Oleh karena itu hai Uwais, mohonkanlah ampunan untukku!” Lalu Uwais pun memohonkan ampunan untuk Umar bin Khaththab. Setelah itu, Khalifah Umar bertanya kepada Uwais, “Hendak pergi kemana kamu hai Uwais?” Uwais bin Amir menjawab, “Saya hendak pergi ke Kufah ya Amirul mukminin.” Khalifah Umar berkata lagi, “Apakah aku perlu membuatkan surat khusus kepada pejabat Kufah?” Uwais bin Amir menjawab, “Saya lebih senang berada bersama rakyat jelata ya Amirul mukminin.” Usair bin Jabir berkata, “Pada tahun berikutnya, seorang pejabat tinggi Kufah pergi melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Selesai melaksanakan ibadah haji, ia pun pergi mengunjungi Khalifah Umar bin Khaththab. Lalu Khalifah pun menanyakan tentang berita Uwais kepadanya. Pejabat itu menjawab, ‘Saya membiarkan Uwais tinggal di rumah tua dan hidup dalam kondisi yang sangat sederhana.’ Umar bin Khaththab berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Kelak Uwais bin Amir akan datang kepadamu bersama rombongan orang-orang Yaman. Ia berasal dari Murad dan kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar mata uang dirham. Kalau ia bersumpah dengan nama Allah, niscaya akan dikabulkan sumpahnya. Jika kamu dapat meminta agar ia berkenan memohonkan ampunan untukmu, maka laksanakanlah.” Setelah itu, pejabat Kufah tersebut langsung menemui Uwais dan berkata kepadanya, “Wahai Uwais, mohonkanlah ampunan untukku!” Uwais bin Amir dengan perasaan heran menjawab, “Bukankah engkau baru saja pulang dari perjalanan suci, ibadah haji di Makkah? Maka seharusnya engkau yang memohonkan ampunan untuk saya.” Pejabat tersebut tetap bersikeras dan berkata, “Mohonkanlah ampunan untukku hai Uwais?” Uwais bin Amir pun menjawab, “Engkau baru pulang dari ibadah haji, maka engkau yang lebih pantas mendoakan saya.” Kemudian Uwais balik bertanya kepada pejabat itu, “Apakah engkau telah bertemu dengan Khalifah Umar bin Khaththab di Madinah?” Pejabat Kufah itu menjawab, “Ya. Aku telah bertemu dengannya.” Akhirnya Uwais pun memohonkan ampun untuk pejabat Kufah tersebut. Setelah itu, Uwais dikenal oleh masyarakat luas, tetapi ia sendiri tidak berubah hidupnya dan tetap seperti semula. Usair berkata, “Maka aku memberikan Uwais sehelai selendang yang indah, hingga setiap kali orang yang melihatnya pasti akan bertanya, ‘Dari mana Uwais memperoleh selendang itu?’” (HR. Muslim)

Kesimpulan

Berbakti kepada kedua orang tua harus dilaksanakan baik semasa hidupnya mereka maupun sesudah meninggalnya. Jika orang tua telah meninggal, maka kita dapat memintakan ampun kepada Allah Taala untuk mereka (hanya berlaku untuk yang meninggal dalam keadaan Islam).

Salah satu doa nabi Ibrahim alaihissalam: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku, dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)

Terhadap orang tua yang sudah meninggal, sang anak juga harus melunasi hutang mereka dan melaksanakan wasiatnya (selama tidak bertentangan dengan syari’at). Selain itu juga tetap menyambung tali kekerabatan dengan keluarga mereka berdua, serta memuliakan teman-teman mereka berdua.

Diskusi:

  1. Jika orang tua memiliki pemahaman Islam yang salah, bagaimana caranya agar sang anak dapat meluruskan pemahaman tersebut?
  2. Apakah Islam mengakui status orang tua angkat dan anak angkat?

Bahan bacaan lainnya:

Birrul Walidain (Berbakti Kepada Kedua Orang Tua) oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Fiqh Birrul Walidain: Menjemput Surga Dengan Bakti Orang Tua oleh Mushthofa bin Al-Adawi


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post